Series KBB #catatan pengalaman transpuan
Konten ini mengandung pengalaman sensitif, kamu bisa berhenti membacanya. Setelah tenang dan ambil jeda, bisa kembali membacanya.
__________________________________
Cerita Transpuan dengan Keyakinannya kepada Tuhan
Aku selalu bertanya mengenai bagaimana cara kerja Tuhan dalam kehidupan manusia, seiring menyadari kehidupan yang mengandung banyak kerumitan. Sebagai perempuan-trans, banyak sekali pengamatan yang kuendapkan.
Sesekali, jika aku melihat segerombolan lelaki berangkat sholat Jumat, aku bertanya-tanya dalam hati. Kenapa perempuan tidak diwajibkan sholat Jumat? Lalu bagaimana denganku yang perempuan-trans, jika aku sholat Jumat?
Konsekuensinya adalah aku harus bergabung di barisan laki-laki. Padahal tubuhku meregang dan menolak untuk menyatu dengan gender laki-laki, namun di sisi lain ketika menggabungkan diri dengan barisan perempuan, aku juga takut, bagaimana tanggapan mereka nanti?
Apakah aku terlalu berani untuk berdoa pada Tuhan, dengan mempertahankan keperempuananku?
Waktu kecil, jika malam takbir tiba aku dan teman-temanku segera memasang obor. Kami mengikuti orang-orang dewasa yang dengan khidmat mengumandangkan doa-doa, baik pada malam hari raya besar, maupun perayaan tradisi. Saat itu, anak maupun dewasa sudah mulai melihatku aneh.
Pernah usai sembahyang di masjid, sandalku hilang satu. Sejak itu, aku merasa tidak aman bahkan untuk berdoa pada Tuhanku sendiri. Semakin lama, semakin sering dan jelas orang mempertanyakan kodratku. Aku hampir dihakimi karena selalu memakai atribut perempuan ketika memasuki rumah ibadah.
Tetapi itu semua tidak membuatku jera, aku tetap merasakan jiwaku adalah perempuan, seorang perempuan-transgender.
Pergumulanku dengan Tuhan semakin hari semakin terasa. Aku pindah ke kota pelajar Yogyakarta demi mencari ketenangan hidup. Pada 2016, di Yogyakarta aku menemukan Pondok Pesantren Transpuan Al Fatah yang dipimpin oleh Almarhum Ibu Shinta Ratri.
Perjuangan kami betul-betul sampai pada titik intoleransi yang paling nyata, ditambah dengan tatapan penuh prasangka setiap waktu. Kami dianggap menambah-nambahi aturan karena mendirikan semacam perkumpulan bertema agama yang melanggar tradisi. Sesungguhnya tuduhan-tuduhan tidak mendasar itu perlu dikomunikasikan.
Waktu itu, saat memghadapi sekelompok golongan radikal yang ingin membubarkan Pondok Pesantren Al Fatah, Bu Shinta berkata: Kami hanya ingin beribadah kepada Tuhan, tidak untuk menjadikan orang lain seperti kami. Kami menghindari prasangka buruk demi kemaslahatan. Pondok pesantren transpuan yang kami isi dengan kegiatan keagamaan ini adalah bentuk inklusi dari kami untuk menjalankan ritual kami dengan Tuhan.
Bagi kami, tantangan terbesarnya adalah bagaimana meyakinkan pada masyarakat bahwa kami hanya ingin dekat dengan Tuhan tanpa prasangka. Kami ingin dekat dengan Tuhan. Bukan untuk bermaksud melecehkan agama.
Hari ini, kutengok kembali kerumitan mengaktualisasikan identitas transpuan dalam beribadah. Hanya karena tampilan saja, identitas perempuan-trans masih disangkal, dianggap mengancam moral masyarakat. Kami lazim mengalami teror, dari pelecehan verbal hingga penutupan paksa ruang komunitas kami, Pondok Pesantren Transpuan.
Ironisnya, aku merasa sedang mempertanyakan sesuatu yang tidak pantas, bahkan seolah menggugat Tuhan.
Mengapa perempuan Trans tidak bisa leluasa beribadah?
Mengapa ketika sudah meninggal pun, kami masih menghadapi kesulitan penguburan dari masyarakat?
Apakah aku, sebagai perempuan-trans benar-benar dikutuk Tuhan?
Tiga perenungan kompleks itu membuatku menangis berhari-hari. Aku merasa dunia akan runtuh karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
Suatu ketika aku memperoleh visi suci. Visi yang tidak mudah kuucapkan kembali. Untuk mengingatnya saja, aku perlu berulangkali meyakinkan diriku untuk mencatatnya.
Ternyata, waktu itu yang kuucapkan bukan hanya doa, tapi semacam energi feminin yang datang dari langit.
“Salam Maria penuh rahmat Tuhan besertamu, terpujilah engkau diantara semua wanita. Terpujilah buah tubuhmu Yesus Kristus. Doakanlah kami di waktu sekarang dan waktu kami mati.”
Doa ini mengantarkanku pada Gua Maria di Gereja Pringgolayan, Yogyakarta. Aku melihat rosario terhubung dengan semacam kekuatan batin yang misterius dari doa ini. Saat itu, aku ikut misa jam lima pagi di gereja, masuk dari gerbang, melewati pelataran yang ditumbuhi banyak bunga.
Pengalaman spiritual ini cukup membuatku terguncang, karena aku membayangkan banyak tekanan yang akan kuterima. Bagaimana pula nanti aku menceritakan ini pada Ibu?
Pada akhirnya aku tahu ibu tidak menyetujui perpindahan keyakinanku. Tapi aku tetap menjelaskan padanya pelan-pelan, bahwa aku nyaman dengan doa rosario. Ibuku tetap dengan keyakinannya dan aku tetap pula meyakini keyakinanku kepada Yesus Kristus.
Hal paling besar yang membuat pertahananku rontok, hingga aku sakit, adalah penolakan keluarga ketika aku berpindah keyakinan. Ternyata tanggapan mereka lebih keras daripada saat aku berpindah gender menjadi perempuan-trans. Anggapan bahwa aku murtad, sangat berdosa, bermunculan. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk hidup memisahkan diri dari mereka, dari anggapan-anggapan buruk tentang keyakinan baruku.
Setelah memisahkan diri. Aku dipulihkan oleh Tuhan Yesus. Aku semakin mengerti ajarannya mengenai kasih. Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri. Produk Kasih Yesus menyelamatkanku dari ketakutan ditolak oleh keluarga dan masyarakat.
Aku kembali beraktivitas dengan mengikuti dialog lintas iman atas undangan lembaga di Yogyakarta. Lembaga Dian Interfidei dan Youth Peace Maker mengundangku untuk mengikuti dialog lintas agama. Tentu saja ini membangun kepercayaan diriku kembali.
Kemudian jalan keselamatan Yesus juga semakin nyata dalam hidupku. Perlahan tapi pasti komunikasiku dengan Ibu membaik. Ibuku menghubungiku kembali. Meski menyayangkan keputusanku, Ibu tetap mendoakanku. Tentu saja karena hubungan ibu-anak yang tak akan pernah terputus.
Aku yakin Tuhan ada dalam hati setiap insan, bahkan manusia paling berlumur dosa sekalipun. Aku juga percaya Tuhan selalu mendengar doa, bahkan ketika itu dilakukan ditempat paling sunyi dan tersembunyi. Tuhan tidak pilih kasih dan mendengar semuanya. Tuhan adalah Tuhan. Ia memiliki rancangannya sendiri. Bagaimana mungkin manusia menyelami kerja Tuhan Sang Maha Segala?
Aku selalu mengingatkan diriku untuk mensyukuri sekecil-kecilnya anugerah yang kudapatkan, dan membangun pikiran bahwa Tuhan lebih besar dari segala persoalan kompleks manusia.
